Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul
06.06 |
R i s a l
a h
Inti Dakwah Para Nabi dan Rasul
(Seri Materi Tauhid
2)
Oleh
Ust. Abu Sulaiman (hafizhahullah)
PERTAMA : Kufur
Kepada Thaghut
Ketahuilah
wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak
Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa
Ta'ala sebagaimana yang Dia
firmankan :
“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat
itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah
dan jauhi thaghut” (An Nahl : 36)
Perintah
kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua
rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal
shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim
atau musyrik, Allah Ta'ala berfirman :
“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman
kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat
kokoh (laa ilaaha ilallaah)”
(Al Baqarah : 256)
Bila
seseorang beribadah dengan menunaikan shalat, zakat, shaum, haji dan
sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut, maka dia itu bukan
muslim dan amal ibadahnya tidak diterima.
Adapun
tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul
Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah :
1.
Engkau
meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah,
2.
Engkau
meninggalkannya,
3.
Engkau
membencinya,
4.
Engkau
mengkafirkan pelakunya,
5.
Dan
engkau memusuhi para pelakunya.
Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa
Ta'ala :
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik
pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada
kaumnya : “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian
ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami
dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman
kepada Allah saja”
(Al Mumtahanah : 4)
Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut :
I.
Engkau
meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah.
Ibadah
adalah hak khusus Allah, maka ketika dipalingkan kepada selain Allah, itu
adalah syirik lagi bathil. Do’a adalah ibadah sebagaimana firmanNya Ta’ala
:
“Berdo’alah kepadaKu, tentu akan Kukabulkan
permohonan kalian, sesungguhnya orang-orang yang menolak beribadah kepadaKu,
maka mereka akan masuk nereka Jahannam dalam keadaan hina” (Al Mukmin : 60)
Rasulullah Shalallahu
'alaihi wasallam besabda : “Do’a
itu adalah ibadah” Memohon kepada orang-orang yang sudah mati adalah
diantara bentuk pemalingan ibadah do’a kepada selain Allah, dan itu harus
diyakini bathil, sedang orang yang meyakini bahwa memohon kepada orang atau
wali yang sudah mati adalah sebagai bentuk pengagungan terhadap wali tersebut
maka dia belum kufur terhadap thaghut.
Sembelihan
adalah ibadah, dan bila dipalingkan kepada selain Allah, maka hal tersebut adalah
syirik lagi bathil, Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah, Sesunggunya shalatku, sembelihanku,
hidup dan matiku adalah bagi Allah Rabbul ‘alamin, tiada satu sekutupun
bagiNya” (Al An’am
: 162-163)
Rasulullah Shalallahu
'alaihi wasallam bersabda : “Allah
melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah (tumbal)”. Sedangkan dalam
kenyataan, orang yang membuat tumbal, baik berupa ayam atau kambing saat hendak
membangun rumah, gedung, jembatan dsb, dia menganggap sebagai tradisi yang
patut dilestarikan, maka orang ini tidak kufur terhadap thaghut.
Taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara bersedekah makanan adalah ibadah,
sedangkan taqarrub kepada jin dan syaitan dengan sesajen adalah syirik lagi
bathil. Allah berfirman tentang syiriknya orang-orang Arab dahulu :
“Dan mereka menjadikan bagi Allah satu bahagian
dari apa yang telah Allah ciptakan berupa tanaman dan binatang ternak. Mereka
mengatakan sesuai dengan persangkaan mereka : “Ini bagi Allah dan ini bagi
berhala-berhala kami” (Al An’am : 136)
Jadi orang yang menganggap pembuatan sesajen
sebagai tradisi yang mesti dilestarikan, berarti dia tidak kufur terhadap
thaghut.
Wewenang
( menentukan / membuat ) hukum/ undang-undang/aturan adalah hak Allah.
Penyandaran hukum kepada Allah adalah bentuk ibadah kepadaNya, sedangkan bila
wewenang itu disandarkan kepada makhluk, maka itu adalah syirik dan merupakan
suatu bentuk ibadah kepada makhluk tersebut. Allah Ta'ala berfirman :
“(Hak) hukum itu tidak lain adalah milik Allah.
Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepadaNya. Itulah dien
yang lurus” (Yusuf
: 40)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan manusia agar
tidak menyandarkan hukum, kecuali kepada Allah, dan Allah namakan penyandaran
hukum itu sebagai ibadah, sehingga apabila disandarkan kepada makhluk maka hal
itu adalah perbuatan syirik, sebagaimana firmanNya :
“Dan janganlah kalian memakan dari (sembelihan)
yang tidak disebutkan nama Allah padanya, sesungguhnya hal itu adalah fisq.
Dan sesungguhnya syaitan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian,
dan bila kalian menta’ati mereka maka sungguh kalian ini adalah orang-orang
musyrik” (Al An’am
: 121)
Kita
mengetahui dalam ajaran Islam bahwa sembelihan yang tidak memakai nama Allah
adalah bangkai dan itu haram, sedangkan dalam ajaran kaum musyrikin adalah
halal. Syaitan membisikan kepada wali-walinya (agar berkata) :, “Hai Muhammad,
ada kambing mati di pagi hari, siapakah yang membunuhnya?” maka Rasulullah
menjawab, “Allah yang telah mematikannya” Mereka berkata, “Kambing yang telah
Allah sembelih (maksudnya bangkai) dengan tanganNya Yang Mulia kalian haramkan,
sedangkan yang kalian sembelih dengan tangan-tangan kalian, kalian katakan
halal, berarti sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah” (HR.
Hakim)
Ucapan tersebut adalah wahyu syaitan untuk
mendebat kaum muslimin agar setuju dengan aturan yang menyelisihi aturan Allah,
dan agar setuju dengan penyandaran hukum kepada mereka, maka Allah tegaskan,
bahwa apabila mereka (kaum muslimin) setuju dengan hal itu berarti mereka telah
musyrik. dan dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka (orang-orang Nashrani) telah menjadikan
para Harb (ahli ilmu/ulama) dan para Rahib (ahli ibadah) sebagai Arbaab
(tuhan-tuhan) selain Allah. Juga Al Masih putera Maryam, padahal mereka tidak
diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada
Tuhan Yang Haq kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah : 31)
Dalam ayat ini Allah vonis orang-orang Nashrani
sebagai berikut :
-
Mereka
telah mempertuhankan para ahli ilmu dan para rahib
-
Mereka
telah beribadah kepada selain Allah
-
Mereka
telah musyrik
Juga para ahli ilmu dan para rahib tersebut Allah
vonis mereka sebagai Arbaab.
Dalam
atsar yang hasan dari ‘Adiy Ibnu Hatim (dia asalnya Nashrani kemudian
masuk Islam) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat itu di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim,
maka dia berkata : “Wahai Rasulullah, kami dahulu tidak pernah ibadah dan sujud
kepada mereka (ahli ilmu dan para rahib)” maka Rasulullah berkata, “Bukankah
mereka itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan kalian ikut-ikutan
menghalalkannya? Bukankah mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan
lalu kalian ikut-ikutan mengharamkannya?” lalu ‘Adiy Ibnu Hatim berkata, “Ya,
betul” lalu Rasulullah berkata lagi, “Itulah bentuk peribadatan orang-orang
Nashrani kepada mereka itu” (HR. At Tirmidzi)
Jadi orang Nashrani divonis musyrik karena mereka
setuju dengan penyandaran hukum kepada ahli ilmu dan para rahib, meskipun itu
menyelisihi aturan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sedangkan
pada masa sekarang, orang meyakini bahwa demokrasi adalah pilihan terbaik, atau
minimal boleh menurut mereka. Padahal demokrasi berintikan pada penyandaran
wewenang hukum kepada kedaulatan rakyat atau wakil-wakilnya, sedangkan ini
adalah syirik, maka orang tersebut tidak kufur terhadap thaghut dan dia itu
belum muslim.
Allah Ta’ala berfirman berkaitan dengan
semua peribadatan diatas :
“Itu dikarenakan sesungguhnya Allah adalah
satu-satunya Tuhan Yang Haq, dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Dia
adalah bathil” (Luqman
: 30)
juga firmanNya Ta'ala :
“Itu dikarenakan sesungguhnya Allah adalah
satu-satunya Tuhan Yang Haq dan sesungguhnya apa yang mereka seru selainNya
adalah yang bathil” (Al Hajj : 62)
II.
Engkau
meninggalkannya
Meyakini
perbuatan syirik itu adalah bathil belumlah cukup, namun harus disertai meninggalkan
perbuatan syirik itu. Orang yang meyakini pembuatan tumbal/sesajen itu bathil,
akan tetapi karena takut akan dikucilkan masyarakatnya lalu ia melakukan hal
tersebut, maka dia tidak kufur terhadap thaghut. Orang yang meyakini bahwa
demokrasi itu syirik, tetapi dengan dalih ‘Mashlahat Dakwah’ lalu ia
masuk ke dalam sistem demokrasi tersebut, maka dia tidak kufur terhadap
thaghut. Seperti orang yang membuat partai-partai berlabel Islam dalam rangka
ikut dalam ‘Pesta Demokrasi’
Sesungguhnya kufur
terhadap thaghut menuntut seseorang untuk meninggalkan dan berlepas diri dari
kemusyrikan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayah
dan kaumnya : “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadati” (Az Zukhruf : 26-27)
juga firmanNya Ta’ala tentang Ibrahim ‘alaihissalam.
:
“Dan saya tinggalkan kalian dan apa yang
kalian seru selain Allah” (Maryam : 48)
Rasulullah Shalallahu
'alaihi wasallam bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka bersaksi akan laa ilaaha ilallaah…” (Muttafaq
‘alaih)
Sedangkan orang yang tidak
meninggalkan syirik, maka dia itu tidak dianggap syahadatnya, karena yang dia
lakukan bertentangan dengan apa yang dia ucapkan, oleh sebab itu Syaikh
Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “dan siapa yang
bersyahadat laa ilaaha ilallaah, namun di samping ibadah kepada Allah,
dia beribadah kepada yang lain juga, maka syahadatnya tidak dianggap meskipun
dia shalat, shaum, zakat dan melakukan amalan Islam lainnya” (Ad Durar As
Saniyyah : 1/323, & Minhajut Ta’sis : 61).
Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu
Hasan Ibnu Muhammad
rahimahullah berkata : “Ulama berijma, baik ulama salaf maupun khalaf
dari kalangan para shahabat dan tabi’in, para imam dan semua Ahlus Sunnah bahwa
orang tidak dianggap muslim, kecuali dengan cara mengosongkan diri dari syirik
akbar dan melepaskan diri darinya” (Ad Durar As Saniyyah : 2/545).
Beliau juga berkata : “Siapa yang berbuat syirik, maka dia telah meninggalkan
Tauhid” (Syarah Ashli Dienil Islam,
Majmu’ah tauhid).
Orang berbuat syirik, dia
tidak merealisasikan firmanNya : “Dan mereka itu tidak diperintahkan kecuali
untuk beribadah kepada Allah seraya memurnikan seluruh ketundukan kepadaNya”
(Al Bayyinah : 5). Orang yang melakukan syirik akbar meskipun tujuannya
baik maka dia tetap belum kufur terhadap thaghut.
Al Imam Su’ud Abdil Aziz
Ibnu Muhammad Ibnu Su’ud
rahimahullah berkata : “Orang yang memalingkan sedikit dari (ibadah) itu
kepada selain Allah maka dia itu musyrik, sama saja dia itu ahli ibadah atau
orang fasik, dan sama saja maksudnya itu baik atau buruk” (Durar As Saniyyah:
9/270).
Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah
Ibnu Muhammad rahimahullah
mengatakan : “Sesungguhnya pelafalan laa ilaaha ilallaah tanpa
mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntutannya berupa komitmen terhadap
tauhid, meninggalkan syirik, dan kufur kepada thaghut maka sesungguhnya hal itu
(syahadat) tidak bermanfaat, atas ijma (para ulama)” (Kitab Taisir)
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata : “Para ‘ulama ijma,
bahwa siapa yang memalingkan sesuatu dari dua macam do’a kepada selain Allah,
maka dia telah musyrik meskipun dia mengucapkan Laa ilaaha ilallaah
Muhammadurrasulullah, dia shalat, shaum dan mengaku muslim” (Ibthal At
Tandid : 76).
Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu
Hasan rahimahullah
berkata : “Orang tidak disebut muwahhid kecuali dengan cara menafikan syirik
dan bara’ah darinya”
Jadi, orang yang tidak
meninggalkan syirik, dia tidak kufur terhadap thaghut.
III.
Engkau
Membencinya
Orang yang meninggalkan
perbuatan syirik akan tetapi dia tidak membencinya, maka dia belum kufur
terhadap thaghut. Ini dikarenakan Allah mensyaratkan adanya kebencian terhadap
syirik dalam merealisasikan tauhid kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman
tentang Ibrahim ‘as. :
“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kalian ibadati”
(Az Zukhruf : 26)
Kata bara’ (berlepas diri) dari syirik itu
menuntut adanya kebencian akan adanya syirik itu. Rasulullah Shalallahu
'alaihi wa sallam bersabda : “Ikatan
iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”
Kebencian
terhadap syirik ini berbentuk realita, yaitu tidak hadir di majelis
syirik saat syirik sedang berlangsung. Sebagai contoh : orang yang hadir di tempat
membuat atau mengubur tumbal yang sedang dilakukan, maka dia itu sama dengan
pelakunya. Allah Ta'ala berfirman :
“Dan sungguh Dia telah menurunkan kepada kalian
dalam Al Kitab, yaitu bila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan
diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya kalian (bila duduk bersama
mereka saat hal itu dilakukan), berarti sama (status) kalian dengan mereka” (An Nisa : 140)
Jadi orang yang duduk dalam majelis di mana
kemusyrikan atau kekufuran sedang berlangsung atau sedang dilakukan atau
dilontarkan (diucapkan) dan dia duduk tanpa dipaksa dan tanpa mengingkari hal
tersebut maka dia sama kafir dan musyrik seperti para pelaku kemusyrikan
tersebut.
Seandainya
kalau tidak dapat mengingkari dengan lisannya, maka hal tersebut harus diingkari dengan hatinya yang
berbentuk sikap meninggalkan majelis tersebut. Sungguh sebuah kesalahan fatal
orang yang mengatakan : “Saya ingkar dan benci di hati saja” sedangkan dia tidak pergi meninggalkan
majelis tersebut.
Oleh
karenanya para shahabat pada masa khalifah Utsman radliyallahu 'anhu ber-ijma
atas kafirnya seluruh jama’ah mesjid di kota Kuffah saat salah seorang
diantara mereka mengatakan : “Saya menilai apa yang dikatakan Musailamah itu
bisa jadi benar” dan yang lain -yang hadir di mesjid- tidak mengingkari
ucapannya seraya pergi darinya. (Riwayat
para penyusun As Sunan / Ashhabus Sunan)
Orang
yang tidak membenci ajaran syirik, agama kuffar, system kafir, dan thaghut
berarti ia tidak kufur terhadap thaghut.
IV.
Engkau
Mengkafirkan Pelakunya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengkafirkan
para pelaku syirik akbar dalam banyak ayat, diantaranya :
“Dan orang-orang yang menjadikan
sembahan-sembahan selain Allah, (mereka mengatakan) : “kami tidak beribadah
kepada mereka, melainkan supaya mereka itu mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah memutuskan diantara mereka dihari kiamat
dalam apa yang telah mereka perselisihkan, sesungguhnya Allah tidak
memberikan petunjuk kepada orang yang
dusta lagi sangat kafir”
(Az Zumar : 3)
dan firmanNya Ta’ala :
“Dan siapa yang menyeru ilaah yang lain bersama
Allah yang tidak ada bukti dalil kuat buat itu baginya, maka perhitungannya
hanyalah disisi Rabnya, sesungguhnya tidak beruntung orang-orang kafir itu” (Ghofir / Al Mukmin : 117)
Bila Allah mengkafirkan para pelaku syirik, maka
orang yang tidak mengkafirkan mereka berarti tidak membenarkan Allah. Dia Subhanahu
Wa Ta'ala juga telah memerintahkan untuk mengkafirkan para pelaku syirik,
diantaranya adalah firmanNya :
“Dan dia menjadikan tandingan-tandingan bagi
Allah supaya dia menyesatkan dari jalanNya, katakanlah, “Nikmatilah kekafiranmu
sebentar, sesungguhnya kamu tergolong penghuni neraka” (Az
Zumar : 8)
Dan
orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik, berarti dia menolak perintah
Allah, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam besabda : “Siapa yang
mengucapkan Laa ilaaha ilallaah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang
diibadati selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan
perhitungannya adalah atas Allah” (HR. Muslim)
Para imam dakwah Najdiyyah
telah menjelaskan maksud sabda nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, “Dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang
diibadati selain Allah”, maksud kalimat tersebut adalah : Mengkafirkan
pelaku syirik dan berlepas diri dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati (Ad
Durar As Saniyyah: 291)
Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik akbar
adalah orang yang tidak kufur kepada thaghut :
Syaikh
Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Orang yang
tidak mengkafirkan para pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka atau
membenarkan ajaran mereka, maka dia telah kafir” (Risalah Nawaqidlul Islam)
Syaikh
‘Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Seseorang tidak
menjadi muwahhid kecuali dengan menafikan syirik, berlepas diri darinya dan
mengkafirkan pelakunya” (Syarh Ashli Dienil Islam - Majmu’ah Tauhid)
Syaikh
‘Abdul Lathif Ibnu ‘Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata :
“Dan sebahagian ulama memandang bahwa hal ini (mengkafirkan pelaku syirik) dan
jihad diatasnya adalah salah satu rukun yang mana Islam tidak tegak tanpanya” (Mishbahuzh
Zhallam : 28). Beliau berkata lagi : [“Adapun menelantarkan jihad dan tidak
mengkafirkan orang-orang murtad, orang yang menjadikan andaad
(tandingan-tandingan) bagi Tuhannya, dan orang yang mengangkat andaad dan arbaab
(tuhan-tuhan) bersamaNya, maka sikap seperti ini hanyalah ditempuh oleh orang
yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya. Orang yang tidak mengagungkan
perintahNya, tidak meniti jalanNya dan tidak mengagungkan Allah dan RasulNya
dengan pengagungan yang sebenar-benarnya pengagungan terhadapNya, bahkan dia
itu tidak menghargai kedudukan ulama dan para imam umat ini dengan selayaknya”
(Mishbahuzh Zhalam :29)]
Para imam dakwah Nejd
berkata : “Di antara hal yang mengharuskan pelakunya diperangi adalah sikap
tidak mengkafirkan pelaku-pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka karena
sesungguhnya hal itu termasuk pembatal dan penggugur keIslaman. Siapa yang
memiliki sifat ini maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib
diperangi sehingga dia mengkafirkan para pelaku syirik” (Ad Durar As
Saniyyah: 9/291)
Mereka juga mengatakan :
“Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, dia itu tidak
membenarkan Al Qur’an, karena sesungguhnnya Al Qur’an telah mengkafirkan para pelaku
syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka dan
memerangi mereka” (Ad Durar As Saniyyah: 9/291)
Jadi, takfir
(mengkafirkan) para pelaku syirik adalah bagian Tauhid dan pondasi dien ini, bukan
fitnah sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Allah dari kalangan ‘ulama
suu’ (ulama jahat) kaki tangan thaghut dan kalangan neo murji-ah. Orang yang
mengkafirkan pelaku syirik bukanlah Khawarij, justeru mereka itu adalah
penerus dakwah rasul-rasul. Orang yang menuduh mereka sebagai Khawarij adalah
orang yang tidak paham akan dakwah para rasul.
Syaikh ‘Abdul Lathif Ibnu ‘Abdirrahman rahimahullah
berkata : “Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk ‘aqidah
Khawarij maka sungguh dia telah mencela semua rasul dan umat ini. Dia tidak
bisa membedakan antara Dien para rasul dengan madzhab Khawarij, dia telah
mencampakkan nash-nash Al Qur’an dan dia mengikuti selain jalan kaum muslimin”
(Mishbahuzh Zhallam : 72)
Orang yang tidak
mengkafirkan pelaku syirik akbar secara nau’ (jenis pelaku) maka dia
kafir, sedangkan orang yang membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan
(orang tertentu) maka minimal jatuh dalam bid’ah dan bila (sudah) ditegakkan hujjah atasnya maka dia kafir juga.
Orang yang tidak mau
mengkafirkan para pelaku syirik, pada umumnya dia lebih loyal kepada pelaku
syirik dan justru memusuhi para muwahhid yang mengkafirkan pelaku syirik.
Demikianlah realita yang terjadi, sehingga banyak yang jatuh dalam kekafiran.
Tidaklah sah shalat di belakang orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik
akbar secara mu’ayyan.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil
Wahhab rahimahullah
berkata : “ Siapa yang membela-bela mereka (para thaghut dan pelaku syirik
akbar) atau mengingkari terhadap orang yang mengkafirkan mereka, atau mengklaim
bahwa : ‘perbuatan mereka itu meskipun bathil tetapi tidak mengeluarkan mereka
pada kekafiran’, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq,
tidak diterima tulisannya, tidak pula kesaksiannya, serta tidak boleh shalat
bermakmum dibelakangnya” (Ad Durar As Saniyyah : 10/53)
Ini adalah status minimal, adapun kebanyakan
berstatus sebagaimana yang digambarkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab
rahimahullah : [“Orang-orang yang merasa keberatan dengan masalah
takfir, bila engkau mengamati mereka ternyata kaum muwahhidin adalah musuh
mereka, mereka benci dan dongkol kepada para muwahhid itu. Sedangkan para
pelaku syirik dan munafiqin adalah teman mereka yang mana mereka bercengkrama
dengannya. Akan tetapi hal seperti ini telah menimpa orang-orang yang pernah
bersama kami di Dir’iyyah dan ‘Uyainah yang mana mereka murtad dan benci akan
dien ini” (Ad Durar As Saniyyah : 10/92)]
V.
Engkau
Memusuhi Mereka
Orang
yang tidak memusuhi pelaku syirik bukanlah orang yang kufur kepada thaghut,
Allah berfirman tentang ajaran Ibrahim ‘as. Dan para nabi yang bersamanya :
“Dan tampak antara kami dan kalian permusuhan dan
kebencian selamanya hingga kalian beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah : 4)
dan firmanNya Ta’ala :
“Kalian tidak mungkin mendapatkan orang-orang
yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang
yang menentang Allah dan RasulNya, meskipun mereka itu ayah-ayahnya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya atau karib kerabatnya” (Al Mujaadilah : 22)
Syaikh Muhammad rahimahullah mengatakan : [Sesungguhnya
orang tidak tegak keIslamnnya walaupun ia mentauhidkan Allah dan meninggalkan
kemusyrikan kecuali dengan memusuhi para pelaku syirik…..”] (Syarh Sittati
Mawadli Minas Sirah, Majmu’ah Tauhid : 21)
Permusuhan
lawannya adalah loyalitas kepada orang kafir. Menafikan (meniadakan) keimanan/ tauhid,
Allah Ta’ala berfirman :
“Dan siapa yang berloyalitas kepada mereka
(orang-orang kafir) diantara kalian, maka sesungguhnya dia adalah bagian dari
mereka” (Al Maidah
: 51)
Karena permusuhan ini Allah Ta’ala
berfirman :
“Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimanapun
kalian mendapati mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah
mereka ditempat pengintaian”
(At Taubah : 5)
Demikianlah
tata cara kufur kepada thaghut.
KE DUA : Iman Kepada Allah
Adapun makna iman kepada Allah adalah :
I.
Engkau
meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya
ilaah yang berhak diibadahi
II.
Engkau
memurnikan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah
III. Engkau menafikan ibadah itu dari selain Allah
IV. Engkau mencintai lagi loyal kepada orang yang
bertauhid
V.
Serta
engkau membenci lagi memusuhi para pelaku syirik
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
I.
Engkau
meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya ilaah yang berhak diibadati
Orang yang membolehkan
tumbal, sesajen, permohonan kepada orang yang sudah meninggal atau meyakini
serta memegang sistem demokrasi berarti dia telah meyakini adanya ilaah yang
lain bersama Allah, mereka tidak beriman kepada Allah. Orang yang menyerukan
penegakan hukum thaghut atau menyerukan demokrasi, dia itu tidak beriman kepada
Allah, begitu juga orang yang menyerukan hukum adat.
Orang yang bertauhid hanya
meyakini satu sumber hukum, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang yang
bertauhid hanya meyakini satu Dzat yang berhak diibadati. Allah Ta'ala berfirman :
“Katakanlah ; “Dialah Allah Yang Maha Esa” (Al Ikhlas : 1)
dan firmanNya Ta'ala :
“Janganlah engkau mengangkat dua tuhan, Dia itu
hanyalah Tuhan Yang Maha Esa”
(An Nahl : 51)
Sedangkan tuhan-tuhan para ‘Ubadul Qubur adalah
banyak, yaitu orang-orang yang sudah mati yang mereka ajukan permohonan
(permintaan) kepadanya. Dan adapun tuhan-tuhan para pengusung demokrasi adalah
banyak pula, ada tuhan dari Partai A, Partai B, Partai C dan seterusnya. Para pembuat
hukum itu adalah tuhan-tuhan mereka.
II. Engkau memurnikan seluruh macam ibadah hanya
kepada Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan
memerintahkan ibadah kepadaNya, akan tetapi Dia memerintahkan supaya orang
hanya ibadah kepadaNya, dan tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya dalam
ibadah-ibadah tersebut, sebagaimana firmanNya :
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya
mereka beribadah kepada Allah seraya memurnikan seluruh Dien (ketundukan) hanya
kepadaNya” (Al
Bayyinah : 5)
juga firmanNya Ta’ala :
“Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya
sepenuhnya kepada Allah sedang dia itu muhsin (mengikuti tuntunan rasul), maka
dia itu telah berpegang pada buhul tali yang sangat kokoh (tauhid/Islam)” (Luqman : 22)
Menyerahkan wajah sepenuhnya kepada Allah adalah
dengan cara beribadah hanya kepada Allah, sebagaimana Dia Ta’ala berfirman
:
“Ya, siapa orangnya yang menyerahkan wajahnya
sepenuhnya kepada Allah, sedang dia muhsin (berbuat kebaikan) maka bagi dia
pahala disisi Tuhannya, tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka itu
tidaklah bersedih”
(Al Baqarah : 112)
Syaikh ‘Abdul Lathif Ibnu ‘Abdirrahman rahimahullah berkata : “Ayat ini adalah bantahan terhadap ‘ubbadul
qubur yang menyeru selain Allah dan beristighatsah kepada selainNya,
karena penyerahan wajah serta ihsan dalam beramal itu tidak pada diri mereka” (Minhaj
At Ta’sis)
‘Ubbadul
qubur adalah orang-orang yang mengaku Islam, shalat, zakat, shaum, haji,
dsb. Tetapi masih suka meminta kepada orang yang sudah mati, terutama orang
shalih atau wali. Maka ‘ubbadul qubur adalah kaum musyrikin.
Syaikh
Ali Khudlair, di awal kitab Ath Thabaqat menyebutkan bahwa diantara
golongan yang termasuk ‘ubbadul qubur adalah : Para penguasa thaghut,
para budaknya (aparat keamanan), para pengusung undang-undang buatan, kaum
demokrat dan yang lainnya. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam
bersabda : “Hak Allah atas hamba-hambaNya adalah mereka beribadah kepadaNya dan
mereka tidak menyekutukan sesuatupun denganNya” (hadits shahih dari Mu’adz)
Orang
yang berbuat syirik, berarti dia telah melanggar hak Allah. Jelasnya bahwa
orang yang mengaku beriman pada rukun iman, rukun Islam dan dia beribadah
kepada Allah, akan tetapi di samping itu dia membuat tumbal, sesajen, memohon
kepada penghuni kubur atau ikut serta dalam demokrasi, maka mereka itu dianggap
tidak beriman kepada Allah (dia bukan muslim). Syaikh ‘Adurrahman Ibnu Hasan
rahimahullah berkata : [Para ulama telah berijma, baik salaf maupun
khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, para imam dan seluruh Ahlus Sunnah
bahwa seseorang tidak dianggap muslim, kecuali dengan cara (dia) mengosongkan
diri dari syirik akbar, berlepas diri darinya dan dari pelakunya, membenci
mereka, memusuhi mereka sesuai kekuatan dan kemampuan, serta memurnikan amalan
seluruhnya bagi Allah” (Ad Durar As Saniyyah : 11/545)]
Perkataan
seseorang : ”Saya beriman kepada Allah dan saya bukan musyrik” tidaklah
bermanfaat bila ternyata realita syirik ada padanya, oleh sebab itu Al Hasan
Al Bashri rahimahullah berkata :
[Iman itu bukan angan-angan dan bukan dengan hiasan, akan tetapi ia adalah apa
yang terpatri di dalam hati dan di benarkan dengan amalan]
III.
Menafikan
ibadah itu dari selain Allah
Orang
yang beriman kepada Allah tidak mungkin memalingkan satu macam ibadahpun kepada
selain Allah, karena orang yang memalingkan satu saja ibadah kepada selain
Allah, berarti telah meninggalkan Islam. Oleh sebab itu Allah Ta’ala memerintahkan
kepada nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada
orang-orang kafir : “Aku tidak beribadah kepada apa yang kalian ibadahi”
(Al Kaafirun : 2).
IV.
Engkau
Mencintai Dan Loyal (Wala) Kepada Orang Yang Bertauhid
Orang
yang beriman kepada Allah pasti mencintai dan loyal kepada orang yang
bertauhid, karena mereka memiliki ikatan persaudaran diatas dien ini, Allah Ta'ala
berfirman :
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara” (Al
Hujurat : 10)
dan firmanNya dalam ayat yang lain :
“Orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin
perempuan sebahagiannya adalah penolong bagi sebahagian yang lain” (At Taubah : 71)
Oleh sebab itu, tidak mungkin orang mukmin
mendukung orang-orang kafir dalam rangka menghancurkan kaum muslimin karena itu
bertentangan dengan wala (loyalitas) terhadap kaum muslimin.
V.
Engkau
membenci pelaku-pelaku syirik dan memusuhi mereka
Allah mengatakan tentang ucapan para rasul
semuanya yang harus kita ikuti :
“Dan tampaklah antara kami dengan kalian
permusuhan dan kebencian selama-lamanya sehingga kalian beriman kepada Allah
saja…” (Al
Mumtahanah : 4)
Orang yang tidak membenci dan tidak memusuhi
pelaku syirik adalah orang yang tidak beriman kepada Allah.
Falsafah
yang mengajarkan agar tidak membenci atau memusuhi ajaran agama lain adalah
falsafah kafir. Sistem yang menyamakan semua ajaran agama adalah system syirik.
Orang yang bertauhid pasti membenci dan memusuhi pelaku syirik meskipun ayah
sendiri atau anak sendiri. Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata : [Tidak tegak keIslaman
sesorang meskipun dia tidak beribadah kecuali kepada Allah, kecuali dengan cara
memusuhi para pelaku syirik]
Raihlah
iman dengan cara memusuhi para pelaku syirik.
Inilah
penjelasan makna Iman kepada Allah. Akhir kata, Alhamdulillaahirrabbil ‘aalamiin
(10.04.04)
Kajian Tauhid
02.42 |
Muqaddimah
Tentang Pentingnya Tauhid
Ust.
Abu Sulaiman
(hafizhahullah)
Segala puji hanya milik
Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
kita Muhammad, keluarganya dan para shahabat.
Saat ini kita akan
bersama-sama mengkaji Tauhid dan materi pertama yang akan kita bahas adalah berkenaan
dengan muqaddimah yang sangat penting, yang mana dari muqaddimah ini kita akan
mengetahui betapa besar kedudukan tauhid dibandingkan dengan amal-amal yang
lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala
mengatakan dalam surat
Adz Dzaariyaat : 56
$tBur
àMø)n=yz £`Ågø:$#
}§RM}$#ur
wÎ)
Èbrßç7÷èuÏ9
ÇÎÏÈ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali
supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”
Jadi tujuan kita diciptakan
oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan
hidup di dunia ini adalah dalam rangka mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan mengabdi
kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kita sebagai hamba Allah, tentu kita adalah abdi bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kita hanya
menghambakan diri dan mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Saya ulangi... tujuan
kita di dunia ini bukan apa-apa, tapi untuk mengabdi “liya’ buduun” kepada Allah Subhanahu
Wa Ta’ala. Adapun bumi dan isinya beserta semua pernak-perniknya Allah
ciptakan untuk bekal kehidupan kita. Allah Ta’ala
berfirman :
uqèd Ï%©!$#
Yn=y{
Nä3s9
$¨B
Îû
ÇÚöF{$#
$YèÏJy_
§NèO
#uqtGó$#
n<Î)
Ïä!$yJ¡¡9$#
£`ßg1§q|¡sù
yìö7y
;Nºuq»yJy
4
uqèdur
Èe@ä3Î/
>äóÓx«
×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
“Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah [2] : 29)
Jadi, bumi dan segala
isinya, baik yang ada di perut bumi ini dan di atas bumi ini semuanya Allah
ciptakan buat kita, sedangkan kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengabdi kepada-Nya…,maka amat sangat
keliru bila orang sibuk mengorbankan agama, mengorbankan pengabdiannya kepada
Allah dalam rangka mencapai kehidupan dunia yang sesaat, padahal itu adalah
bekal dalam hidup mengabdi mencapai ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Banyak sekali manusia
mengorbankan tauhidnya, mengorbankan diennya untuk mendapatkan materi,
mendapatkan uang, makanan, atau harta benda lainnya dari dunia yang fana ini
padahal Allah Ta’ala sangat
menghati-hatikannya :
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$#
¨bÎ)
yôãur
«!$#
A,ym
(
xsù
ãNä3¯R§äós?
äo4quysø9$#
$u÷R9$#
(
wur
Nä3¯R§äót
«!$$Î/
ârátóø9$#
ÇÎÈ
“Hai
manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah
kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaithan yang
pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS. Faathir [35] : 5)
Jadi, kalau orang lupa
kepada tujuan hidup yaitu pengabdian kepada Allah dan ia malah menjadi hamba
atau abdi bagi selain Allah Subhanahu Wa
Ta’ala berarti dia telah terpedaya dengan kehidupan dunia, dia terpedaya
oleh syaitan dan dia lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya.
Saya ulangi, kita diciptakan
untuk mengabdi kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi
dikarenakan kita ~manusia~ ini terbatas kemampuan akalnya, Allah menciptakan manusia
ini sebagai makhluq yang bodoh lagi zhalim. Manusia tidak bisa mengabdi sebenar-benarnya
kepada Allah dengan sendirinya tanpa ada bimbingan, maka dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus para Rasul-Nya
sebagai pembimbing manusia. Allah juga mengetahui bahwa Rasul-Rasul itu tidak
akan hidup abadi di tengah umatnya..., mereka pasti meninggal dunia, maka Allah
menurunkan Kitab-Nya sebagai pedoman yang harus dipegang oleh orang-orang yang
mengikuti para Rasul tersebut.
Jadi Rasul adalah
pembimbing, Kitab adalah pedoman hidup, bila kita ingin mencapai kepada Allah,
maka kita harus mengikuti apa yang dituntunkan oleh Rasul dan mengikuti pedoman
yang telah Allah turunkan, yang mana pedoman ini adalah tali Allah yang Dia
ulurkan ke dunia, barangsiapa memegang tali Allah ini (tali Allah adalah pedoman, Al Kitab, Al-Qur’an) maka akan sampai
pada ridha Allah, tapi kalau memegang kitab-kitab yang lainnya yang tidak ada
dasar dari Allah, kitab yang diulurkan oleh syaitan dari neraka, yaitu selain
Kitabullah atau selain ajaran Rasul, maka kitab tersebut akan menghantarkan ke
dasar api neraka. Berbeda jika orang memegang Al-Qur’an ~tali yang diturunkan Allah ke dunia~ maka akan sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi disini, Rasul diutus sebagai pembimbing.
Apakah inti dakwah para
Rasul ? Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman
:
ôs)s9ur $uZ÷Wyèt/
Îû Èe@à2 7p¨Bé&
»wqß§
Âcr&
(#rßç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur
|Nqäó»©Ü9$#
“Dan sungguhnya
kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) :
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS. An Nahl [16]
: 36)
Ayat ini secara tegas
dan jelas menjelaskan bahwa semua Rasul diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan yang pertama kali mereka ucapkan pada
kaumnya dan ini diucapkan oleh para Rasul terhadap umatnya termasuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah “Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah
thaghut”
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
!$tBur
$uZù=yör& `ÏB
Î=ö6s% `ÏB
@Aqß§
wÎ)
ûÓÇrqçR
Ïmøs9Î) ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr&
Èbrßç7ôã$$sù
ÇËÎÈ
“Dan Kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, Maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku".(QS. Al-Anbiyaa [21] :25)
Jadi bagi semua Rasul, yang
pertama Allah wahyukan kepada mereka adalah “Laa ilaaha illallaah” dan Laa
ilaaha illallaah ini yang disampaikan oleh para Rasul dalam ayat ke-36 Surat An-Nahl tadi (“Ibadahlah kalian kepada Allah dan Jauhilah
thaghut”) Jika kedua ayat tersebut digabungkan, maka maknanya adalah : Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah
thaghut. Laa ilaaha maknanya : Jauhilah thaghut dan illallaah maknanya ibadah kalian kepada Allah.
Ajaran Tauhid (Laa
ilaaha illallaah) ini disepakati oleh semua Rasul, dari Rasul pertama sampai Rasul
terakhir, jadi ajaran para Rasul dalam masalah tauhid adalah sama, perintah
untuk hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut.
Apakah thaghut itu...?
Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan
kita untuk menjauhi thaghut. Apakah kita tahu apa thaghut itu ? Bagaimana kita
menjauhi thaghut ?. Keimanan seseorang kepada Allah tidak akan bermanfaat tanpa
menjauhi thaghut, karena Laa ilaaha illallaah itu mempunyai dua rukun : yang
pertama : Laa ilaaha yang berarti jauhi thaghut, sedangkan yang kedua illallaah (kecuali Allah) maksudnya ibadahlah kalian hanya kepada Allah. Salah
satunya tidak bisa berdiri tanpa yang lainnya.
Orang yang menjauhi
thaghut tapi tidak beriman kepada Allah, maka tidak bermanfaat, begitu juga
orang yang iman kepada Allah tapi tidak menjauhi thaghut maka keimanan kepada
Allah tersebut tidak akan bermanfaat, akan tetapi harus digabungkan : “Ibadah kepada Allah dan menjauhi thaghut”.
Jadi semua dakwah para
Rasul adalah sama dalam masalah Laa ilaaha illallaah yaitu ibadahlah kalian
kepada Allah dan jauhilah thaghut. Allah Ta’ala
berfirman :
`yJsù öàÿõ3t ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãur «!$$Î/
Ïs)sù y7|¡ôJtGó$#
Íouróãèø9$$Î/ 4s+øOâqø9$#
w tP$|ÁÏÿR$# $olm;
“Barangsiapa
kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia berpegang
(teguh) pada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus” (QS.
Al-Baqarah [2] :256)
Buhul tali yang sangat kokoh ini adalah Laa ilaaha
illallaah, tadi telah saya
utarakan: Itulah tali yang Allah ulurkan ke dunia ini, barangsiapa yang kafir
terhadap thaghut atau bahasa lainnya dalam Surat
An-Nahl : 36 “menjauhi thaghut dan
beriman kepada Allah (beribadahlah kepada Allah)” maka orang tersebut telah
memegang buhul tali yang amat kokoh yaitu Laa ilaaha illallaah yang dijelaskan
dalam Surat Al-Anbiyaa’ : 25. Jadi
maknanya : Siapa yang kafir terhadap
thaghut dan iman kepada Allah, maka orang tersebut telah memegang Laa ilaaha
illallaah, artinya : Kalau orang tidak kafir terhadap thaghut walaupun ia
beriman kepada Allah, maka dia itu belum memegang Laa ilaaha illallaah meskipun
ia mengucapkannya dan walaupun ia mengakuinya.
Jadi orang yang kafir
terhadap thaghut dan iman kepada Allah disebut orang yang telah memegang “Al-‘Urwah Al Wutsqa”, Al-‘Urwah adalah ikatan dan Al-Wutsqa adalah yang amat kokoh dan
ikatan yang amat kokoh ini adalah tauhid (Laa ilaha illallaah) karena ikatan
tersebut tidak akan putus.
Allah mensyaratkan bagi
seseorang agar dapat dikatakan memegang Laa ilaaha illallaah adalah dengan dua
hal : Iman kepada Allah dan kafir terhadap thaghut atau menjauhi thaghut dan
ibadah hanya kepada Allah. Sedangkan kita mengetahui bahwa rukun Islam yang
paling pertama adalah Laa ilaaha illallaah. Dalam hadits Al Bukhariy dan Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radliyallahu’anhuma, Rasulullah shalallahu’alaihi
wa sallam mengatakan : “Islam
dibangun atas lima
hal, yang pertama adalah syahadatain Laa ilaha illallaah wa ana Muhammad
Rasulullah. . .” Dan kita juga mengetahui bahwa orang dikatakan telah masuk
Islam apabila berkomitmen dengan Laa ilaaha illallaah.
Kunci masuk Islam
adalah Laa ilaaha illallaah sebagaimana kunci masuk surga adalah Laa ilaaha
illallaah. Maksudnya adalah bukan
sekedar mengucapkan, akan tetapi komitmen dengan makna kandungannya yaitu kafir
terhadap thaghut atau menjauhi thaghut dan iman atau ibadah kepada Allah
artinya : Apabila orang tidak merealisasikan Laa ilaaha illallaah maka orang
tersebut belum memiliki kunci keIslaman yaitu pengamalan akan Laa ilaaha
illallaah.
Oleh karena itu para ‘ulama
seperti : Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah
Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah
berkata dalam kitab beliau Taisir Al ’Aziz
Al Hamid : “Sekedar mengucapkan Laa
ilaaha illallaah tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan konsekuensinya
berupa komitmen dengan tauhid, meninggalkan segala bentuk syirik akbar dan
kafir terhadap thaghut maka pengucapan Laa ilaaha illallaah-nya tersebut tidak
bermanfaat berdasarkan ijma para ulama”.
Jadi hal itu tidak
bermanfaat walaupun mengucapkannya beratus-ratus kali atau beribu-ribu kali
dalam setiap hari, apabila tidak memahami maknanya dan tanpa komitmen dengan kandungannya,
maka itu tidaklah bermanfaat berdasarkan ijma’ para ulama.
Bahkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sebelumnya
telah menjelaskan dalam hadits Muslim
yang disebutkan dalam shahihnya yaitu Dari Abu
Malik Al-Asyja’i, Beliau mengatakan : “Barangsiapa
yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan ia kafir terhadap segala sesuatu yang
diibadati selain Allah ~maksudnya kafir terhadap Thaghut~ maka haram darah dan hartanya”. Di sini
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan
keharaman darah dan harta, maksudnya orang
dikatakan berstatus muslim yang haram harta dan darahnya, jika ia mengucapkan Laa
ilaaha illallaah dan kafir terhadap thaghut. Jadi sekedar mengucapkannya
adalah tidak bermanfaat dan orangnya belum masuk ke dalam Al-Islam, bila tidak
kafir kepada thaghut.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab beliau Thariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain : “Islam itu adalah mentauhidkan Allah dan ibadah hanya kepada Allah
saja tidak ada satupun sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta
mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul, dan barangsiapa tidak membawa hal ini, maka
ia bukan Muslim”. Karena ia belum
memegang Laa ilaaha illallaah.
Jadi Laa ilaaha
illallaah itu memiliki makna dan memiliki kandungan serta memiliki konsekuensi
yang di antaranya adalah kafir terhadap thaghut atau menjauhi thaghut.
Allah memerintahkan
kita untuk menjauhi thaghut, maka tak mungkin Allah tidak memberikan penjelasan
tentang thaghut... itu mustahil, shalat saja yang Allah fardhukan 10 tahun
setelah kerasulan (Nabi Muhammad saw diangkat menjadi Rasul,ed) dijelaskan
dalam sunnahnya secara terperinci oleh Rasul-Nya, apalagi thaghut yang mana
Allah perintahkan semenjak awal Rasul diutus untuk mengatakan : “jauhi thaghut…!”
tentulah Allah menjelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an dan Allah pasti
menjabarkan bagaimana tata cara kafir terhadap thaghut ? Kita tanya diri kita, apakah saya sudah tahu apa itu thaghut ? atau
apakah justru saya mendekati thaghut ? atau malah saya iman kepada thaghut ?
atau malah saya loyal kepada thaghut ? Semua jawaban ada pada diri kita
sendiri, maka dari itu hal ini mengharuskan kita untuk mengetahuinya.
Apabila kita paham
bahwa keIslaman seseorang atau dengan kata lain seseorang tidak dikatakan
muslim, tidak dikatakan mukmin adalah kecuali kalau kafir terhadap thaghut dan
iman kepada Allah, maka selanjutnya... sebelum kita mengupas lebih banyak apa
maknanya, maka terlebih dahulu harus kita ingat bahwa segala amal ibadah; baik
itu shalat, zakat, shaum, haji, i’tikaf, shalat tarawih dan yang lainnya tidak
akan Allah terima, tidak akan Allah balas kalau orangnya belum muslim, belum
mukmin. Maksudnya di sini adalah muslim... mukmin yang sebenarnya ~bukan
pengakuan saja~, yaitu muslim yang merealisasikan Laa ilaaha illallaah
karena para ulama menjelaskan dari uraian-uraian yang tadi mereka mengatakan :
“Para ulama sepakat, bahwa orang yang memalingkan satu macam ibadah kepada
selain Allah, maka dia itu orang musyrik walaupun dia shalat, zakat, shaum,
mengaku muslim dan mengucapkan Laa ilaaha illallaah” [Lihat Ibthal At Tandid].
Allah hanya akan
menerima amal shalih yang dilakukan seseorang dengan syarat orang tersebut
merealisasikan Laa ilaaha illallaah (kafir terhadap thaghut dan iman kepada
Allah) karena orang tidak dikatakan muslim dan tidak dikatakan mukmin, kecuali
kalau kafir terhadap thaghut dan iman kepada Allah atau merealisasikan Laa ilaaha
illallaah.
Mari kita ambil
beberapa ayat yang menerangkan bahwa amal shalih tidak akan Allah balas kalau
orangnya (pelakunya) tidak kafir terhadap thaghut.
1.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمَن يَعْمَلْ
مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنُُ فَأُوْلاَئِكَ
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَيُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Dan
barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang
dia itu mukimin, maka mereka itu akan masuk surga dan mereka tidak dizhalimi
sedikitpun” (QS. An-Nisa [4] : 124)
Perhatikanlah
ayat “dia itu mukmin”.. sedangkan orang
tidak dikatakan mukmin, kecuali orang tersebut kafir terhadap thaghut, karena ~seperti yang sudah dijelaskan~ pintu masuk Islam
adalah Laa ilaaha illallaah dan maknanya adalah kafir terhadap thaghut dan iman
kepada Allah.
Ayat ini
menjelaskan bahwa Allah akan memberikan balasan surga dan tidak sedikitpun
mengurangi amal shalih yang dilakukan seseorang baik itu laki-laki ataupun
perempuan dengan syarat dia mukmin,
sedangkan orang yang melakukan shalat, zakat, shaum, haji, jihad dan yang
lainnya namun dia ternyata tawalliy
kepada thaghut atau masih melakukan kemusyrikan atau yang lainnya yang
melanggar Laa ilaaha illallaah, maka balasan tadi tidak akan diberikan karena
Allah mengatakan “sedang dia itu mukmin” sebagai
syaratnya.
2.
Allah Ta’ala berfirman :
مَنْ عَمِلَ
صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً
طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa
mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukmin,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri
balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.
An-Nahl [16] : 97)
Amal shalih yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan
akan ada balasannya dari Allah, akan tetapi ada syaratnya yaitu : “sedang dia itu mukmin”. Orang mukmin yaitu yang merealisasikan
keimanan yang intinya ada dalam makna kandungan Laa ilaaha illallaah (kafir
terhadap thaghut dan iman kepada Allah)
Dua ayat di
atas sama... semuanya tentang amal shalih, ada balasan di ujungnya, sedang di tengahnya
ada syarat : “sedang dia itu mukmin”.
3.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمَن يَعْمَلْ
مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلاَيَخَافُ ظُلْمًا وَلاَهَضْمًا
“Dan
barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia itu mukmin, maka dia tidak
khawatir akan perlakuan zhalim terhadapnya dan tidak (pula khawatir) akan
pengurangan haknya”. (QS. Thaha [20] : 112)
Orang yang melakukan amal shalih tidak akan dizhalimi oleh
Allah, dan tidak akan dikurangi pahalanya tapi ada syaratnya : “sedang dia itu mukmin” orangnya mukmin, orangnya (pelakunya) itu
kafir terhadap thaghut atau menjauhi thaghut dan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebaliknya jika
orang melakukan amal shalih, tapi tidak menjauhi thaghut maka amalnya tidak
akan diberikan balasan oleh Allah Subhanahu
Wa Ta’ala.
4.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
فَمَن يَعْمَلْ
مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلاَ كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ
كَاتِبُونَ
“Barangsiapa
yang mengerjakan kebajikan sedang dia itu mukmin, maka usahanya tidak akan
diingkari (sia-sia) dan sungguh Kami akan mencatat untuknya” (QS.
Al-Anbiyaa [21] : 94)
Amal shalih yang
dilakukan seseorang akan dicatat oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dan tidak akan diingkari-Nya dengan syarat : “sedang dia itu mukmin”. Berarti kalau seseorang
melakukan amal shalih akan tetapi belum merealisasikan ”kafir terhadap thaghut
dan iman kepada Allah” (Laa ilaha illallaah) maka tidak akan dicatat oleh Allah
Subhanahu Wa Ta’ala.
5.
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman :
ô`tB @ÏJtã
Zpy¥Íhy xsù #tøgä wÎ) $ygn=÷WÏB
(
ô`tBur @ÏJtã
$[sÎ=»|¹ `ÏiB @2s
÷rr&
4s\Ré&
uqèdur ÑÆÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù cqè=äzôt sp¨Ypgø:$# tbqè%yöã $pkÏù
ÎötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÍÉÈ
“Barangsiapa
mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukmin
maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizqi di dalamnya tanpa batas.
(QS Al-Mu’min : 40)
6.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
ô`tBur
y#ur&
notÅzFy$#
4Ótëyur $olm; $ygu÷èy
uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù tb%2 Oßgã÷èy
#Yqä3ô±¨B
ÇÊÒÈ
“Barangsiapa
menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh
sedang dia itu mukmin, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan
baik. (QS.
Al Isra [17] : 19)
Amal shalih yang dilakukan seseorang akan dibalas oleh Allah
Subhanahu Wa Ta'ala dengan syarat : “sedang dia itu mukmin”
7.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
`tBur ¾ÏmÏ?ù't
$YYÏB÷sãB ôs% @ÏHxå
ÏM»ysÎ=»¢Á9$#
y7Í´¯»s9'ré'sù ãNçlm;
àM»y_u¤$!$# 4n?ãèø9$# ÇÐÎÈ
“Barangsiapa
datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan, maka
mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi” (QS.
Thaahaa [20] : 75)
Allah janjukan surga
atas amal shalih yang dilakukan seseorang dengan syarat dia itu mukmin. Dia
iman kepada Allah dan kufur kepada thaghut.
Semua ayat-ayat di atas
dengan jelas dan tegas menjelaskan bahwa sekedar orang shalat, zakat, haji dan
yang lainnya belum tentu dia itu muslim kalau dia belum merealisasikan Laa ilaaha
illallaah.
Dan yang harus
diperhatikan adalah bahwa ajaran yang paling
pokok di dalam Islam ini dan yang paling
nikmat adalah bila seseorang telah mendapatkan karunia-Nya adalah ketika dia memahami dan bisa mengamalkan
kandungan Laa ilaaha illallaah.
Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mendakwahkan
Laa ilaaha illallaah, sebelum diangkat menjadi Rasul yang mana digelari oleh
masyarakat sekitarnya sebagai Al-Amin (orang
yang jujur lagi terpercaya), tetapi ketika mendakwahkan Laa ilaaha illallaah
maka gelar itu berubah menjadi : “Tukang sihir
lagi pendusta” (QS. Shaad
: 4) “Penya’ir Gila” (QS. Ash
Shaaffat : 36) dan dalam ayat yang lain dikatakan “sesat”. Semua perubahan ini terjadi karena Laa ilaaha illallaah.
Tidak mungkin orang
sekedar mengucapkan Laa ilaaha illallaah langsung dikatakan : gila, pendusta, penya’ir gila ...
melainkan ketika mengamalkan konsekuensi Laa ilaaha illallaah. Rasulullah
dilempari, dicekik, Bilal disiksa, Sumayyah dibunuh, Yasir dibunuh, Ammar
disiksa dan karena mendapat intimidasi yang dahsyat, maka para shahabat yang lainnya
diizinkan hijrah ke Habasyah (Ethiopia), meninggalkan kampung halaman, rumah, harta
benda, mengarungi padang pasir yang luas dan mengarungi lautan yang jauh untuk
menyeberang ke Benua Afrika, karena apa ? ... Karena mempertahankan Laa ilaaha illallaah.
Andaikata Laa ilaha
illallaah itu hanya sekedar mengucapkan tanpa ada konsekuensi logis yang
dituntut oleh kalimat tersebut pada realita kehidupan, maka tidak mungkin
terjadi apa yang menimpa mereka.
Sekarang misalnya kita
mengucapkan Laa ilaaha illallaah di hadapan thaghut maka kita tidak akan
diapa-apakan. Akan tetapi ketika mengamalkan kandungan Laa ilaaha illallaah
maka akan terjadi apa yang (mesti) terjadi berupa : orang-orang menggunjing, orang-orang menjauhi dan mencela kita, dan
bahkan thaghut mengejar dan memenjarakan itulah yang terjadi ketika kita
mengamalkan konsekuensinya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika mendakwahkan Laa ilaaha
illallaah memakan waktu yang sangat lama, karena beratnya sehingga kaumnya
menolak : “Dan sungguh kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal bersama mereka selama seribu tahun
kurang lima puluh tahun” (QS.Al-Ankabuut
: 14) Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam waktu sekian lama
hanya mempunyai pengikut sebanyak 40 orang -sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama- disebabkan beratnya
kandungan Laa ilaaha illallaah.
Sekarang, shalat tidak
dilarang di manapun, baik orang kafir ashliy
atau orang kafir murtad atau thaghut tidak melarang shalat, bahkan shalat
dianjurkan, shaum bagi mereka adalah penghematan, haji bagi mereka menambah pendapatan
negara, akan tetapi... ketika mengamalkan
kandungan Laa ilaaha illallaah, maka yang ada adalah : penyiksaan, intimidasi,
penjara, pembunuhan dan yang lainnya. Itu semua adalah ketika Laa ilaaha
illallaah dipegang.
Kita sering mendengar
bahwa nikmat yang paling agung adalah nikmat iman dan Islam, hal itu adalah Laa
ilaaha illallaah, namun bukan hanya sekedar ucapan tanpa mengetahui maknanya.
Jika orang tidak memahami hakikat Laa ilaaha illallaah dan tidak mengamalkannya,
maka ia tidak mungkin merasakan nikmat itu, akan tetapi di sini apabila orang
memahaminya, mengamalkannya ~walaupun harus meninggalkan harta dunia atau
materi atau apa saja yang ia miliki~ apabila dia sudah merasakan nikmat Laa ilaaha
illallaah, maka ia akan berani meninggalkan semuanya demi meraih ridha Allah...
meraih surga dan selamat dari api neraka.
Sebaliknya, orang yang melakukan amal shalih, sedangkan ia
tidak merealisasikan makna Laa ilaaha illallaah, masih berlumuran dengan
kemusyirikan, kekafiran, kethaghutan dan yang lainnya, maka nestapa yang akan
dirasakannya adalah sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya tentang
orang-orang yang melakukan amal shalih sedangkan dia belum merealisasikan Laa
ilaaha illallaah yaitu :
Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman :
وَقَدِمْنَآ إِلَى
مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا
Dan
kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal
itu (bagaikan) debu yang beterbangan” (QS. Al-Furqan [25] : 23)
Jadi tidak ada artinya alias hilang : shalatnya, zakatnya, shaumnya,
hajinya, berbuat baiknya kepada tetangga, perbuatan baiknya kepada orang
tuanya, dan kebaikan-kebaikan lainnya, maka semuanya lenyap karena kemusyrikan.
Amal shalih hanya akan diterima dengan syarat “sedang dia itu mukmin”, yaitu komitmen dengan Laa ilaaha illallaah,
orangnya muwahhid (bertauhid).
Firman-Nya yang
menggambarkan tentang realita umat yang merasa telah melakukan amal baik berupa
amal-amal shalih dan menjadi bagian kaum muslimin padahal sebenarnya dirinya
itu masih musyrik dan masih kafir tanpa ia menyadari adalah.......
وَالَّذِينَ
كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْئَانُ مَآءً حَتَّى
إِذَا جَآءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ
وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan
orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar,
yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada
apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya” (QS.
An-Nur [24] :39)
Ayat “dan orang-orang kafir” adalah siapa
saja yang belum merealisasikan Laa ilaaha illallaah, baik itu mengaku muslim
atau nonmuslim, mau shalat, mau zakat ataupun haji akan tetapi belum
merealisasikan Laa ilaaha illallaah maka pada
hakikatnya dia masih kafir.
Allah memperumpamakan
amalan orang-orang yang belum merealisasikan Laa ilaaha illallaah seperti fatamorgana, maksudnya adalah bahwa
orang yang merasa dirinya sudah muslim (ia melakukan) shalat, zakat, haji dan
banyak berbuat baik pada sesama, lalu ia mengira pahalanya sudah menumpuk di sisi
Allah, dia siap memetiknya hingga dia mengira akan masuk surga dan ketika
didatangi (maksudnya: mati) menemui Allah, yang mana sebelumnya dia di dunia
mengira pahala sudah menumpuk... ternyata realitanya dia tidak mendapatkan
apa-apa, kenapa ??? Karena Allah tidak mencatatnya, karena amalan itu tidak ada
artinya, sungguh sangat kecewa, padahal dahulu ketika di dunia dia mengira
bahwa dia calon penghuni surga dan aman dari api neraka, ternyata yang ada
adalah nestapa yang dia dapatkan dalam realita yang seperti itu...Bagaimana sekiranya kalau hal itu menimpa
diri kita ? Ini adalah gambaran dalam ayat tersebut.
Allah Subhanahu
Wa Ta'ala berfirman :
مَّثَلُ الَّذِينَ
كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي
يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّيَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ
“Perumpamaan
orang yang kafir kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti debu yang ditiup
oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa
(mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia)”
(QS. Ibrahim [18]: 18)
Jika kita menyimpan debu di depan rumah, lalu tiba-tiba
debu tersebut ditiup badai... maka apa yang terjadi ? Maka kita akan lihat debu
tersebut beterbangan. Begitu juga amal shalih, ia seperti tumpukan debu,
sedangkan noda-noda kekafiran, kemusyrikan, kethaghutan adalah badai yang meniup
dan menghempaskan amal shalih yang menumpuk, maka amal shalih itu hilang
diterpa badai kemusyrikan tersebut.
Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِىَ
إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ
عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan
sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada Nabi-Nabi yang sebelummu: Sungguh,
jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalanmu dan tentulah
engkau termasuk orang yang merugi.” (QS.
Az-Zumar [39] : 65)
Allah Ta’ala
mengingatkan Rasulullah Shalallahu
’alaihi wa sallam, sedangkan kedudukan beliau adalah Rasul. Beliau adalah
orang muslim, muwahhid, dan mukmin. Akan tetapi jika Rasulullah melakukan
kemusyrikan, beliau diberikan ancaman oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka apa gerangan dengan kita..???
Rugi,
karena sudah capek beramal, banyak mengeluarkan biaya, apalagi kalau pergi Haji
tentu memakan biaya besar, akan tetapi ternyata tidak mendapatkan apa-apa ...
bukankah ini suatu kerugian !?
Bahkan bukan hanya
Rasulullah Muhammad Shalallahu ’alaihi wa
sallam saja, akan tetapi semua rasul diperingatkan dengan ancaman oleh
Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam
kitabNya :
وَلَوْ أَشْرَكُوا
لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sekiranya
mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka
kerjakan” (QS. Al-An’am [6] : 88)
Andai kamu hai orang-orang muslim… hai siapa saja, bila melakukan
kemusyrikan, maka lenyaplah amal kamu seperti tumpukan debu yang dihempas oleh
badai, sehingga ketika mengaku sebagai seorang muslim, merasa dirinya sudah
Islam, melakukan shalat, zakat, haji, jihad, berbakti kepada orang tua, berbuat
baik kepada tetangga, memberi kepada sesama dan yang lainnya, tetapi realita
sebenarnya dia itu belum merealisasikan Laa ilaaha illallaah dan belum kufur
terhadap thaghut lalu merasa dirinya sudah benar, sudah Islam, dia merasa bahwa
kalau dia mati bisa memetik hasil amal shalih yang telah dia lakukan, akan
tetapi ternyata ketika dia datang ke akhirat ia tidak mendapatkan apa-apa
sehingga ini yang Allah gambarkan dalam firman-Nya :
ö@è% ö@yd
Lälã¤Îm7t^çR
tûïÎy£÷zF{$$Î/
¸x»uHùår&
ÇÊÉÌÈ
tûïÏ%©!$#
¨@|Ê
öNåkß÷èy
Îû
Ío4quptø:$#
$u÷R9$#
öNèdur
tbqç7|¡øts
öNåk¨Xr&
tbqãZÅ¡øtä
$·è÷Yß¹
ÇÊÉÍÈ
“Apakah perlu kami
beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (yaitu) orang
yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira telah
berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi [18] : 103-104)
Mereka mengira sudah berbuat sebaik-baiknya, mengira bahwa
dia itu calon penghuni surga, mengira bahwa amalannya diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengira dirinya
aman dari api neraka. Tapi ternyata... tidaklah seperti yang dia perkirakan.
Bukannya pahala yang didapatkannya, akan tetapi malah siksa api neraka, karena
apa ? Karena belum merealisasikan inti dari ajaran Islam ~Laa ilaaha illallaah (iman kepada Allah dan kufur terhadap
thaghut)~ sehingga nestapa inilah yang akan dirasakan dan apa yang
Allah gambarkan dalam firmanNya Ta’ala
:
وُجُوهُُيَوْمَئِذٍ
خَاشِعَةٌ {2} عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ {3} تَصْلَى نَارًاحَامِيَةً
“Pada
hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, (karena) bekerja keras lagi
kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas“ (QS.
Al Ghaasyiyah [88] : 2-4)
Bukan surga yang didapat, akan tetapi dia masuk ke dalam
api yang menyala-nyala. Alangkah ruginya, alangkah sedihnya ketika kondisi yang
di sana tidak
ada lagi kesempatan untuk kembali lagi ke dunia. Mungkin, ketika orang
melakukan kegagalan di dunia ini, dia bisa mengulang dan bisa mengambil
pelajaran karena masih ada kesempatan tapi di akhirat maka tidak akan ada lagi
kesempatan.
Orang yang
dahulunya menentang Allah dan mengikuti thaghut, mereka akan berkata seperti
yang Allah gambarkan dalam firmanNya :
إِذْ تَبَرَّأَ
الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ
وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلأَسْبَابُ
“(Yaitu) ketika
orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya,
dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka
terputus sama sekali”. (QS. Al-Baqarah [2] :166)
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً
فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللهُ
أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَاهُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ
“Dan berkatalah
orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia),
pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri
dari kami". Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal
perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan
keluar dari api neraka”. (QS. Al-Baqarah [2] :167)
Jadi, Tauhid (Laa ilaaha illallaah) adalah inti kehidupan
kita, inti dari dien kita. Realisasikan tauhid ini, jauhi thaghut sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menutup
akhir hayat kita sedang kita belum berlepas diri dari kethaghutan, karena
kehidupan dunia hanya sementara, kehidupan abadi adalah di akhirat. Allah menciptakan
kita di dunia untuk mengabdi kepada Allah... untuk menjauhi thaghut.
Apakah thaghut
itu ? Apa kita sudah tahu apa thaghut, yang mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjauhinya ? Dimana keimanan
kepada Allah tidak akan bermanfaat tanpa kafir kepada thaghut dan bagaimana
cara kita menjauhi thaghut ? Dan apa saja yang membatalkan Laa ilaaha illallaah
? Apa saja yang menggugurkan Laa ilaaha
illallaah ? Jika kita mengetahui apa yang membatalkan wudhu padahal seharusnya
kita terlebih dahulu mengetahui apa yang membatalkan Laa ilaaha illallaah...
yakni yang membatalkan tauhid kita.
Semua itu
akan lebih memahamkan kita ketika mendengar ayat-ayat yang tadi saya sampaikan
tentang begitu pentingnya Laa ilaaha illallaah dan begitu besarnya kandungan Laa
ilaaha illallaah ini sehingga amalan tidak bisa diterima tanpa adanya
pengamalan terhadap Laa ilaaha illallaah. Semua ini mendorong kita untuk
mengetahui apa sebenarnya yang dikandung oleh Laa ilaaha illallaah dan
bagaimana hukumnya berloyalitas terhadap thaghut. Semua ini harus diketahui.
Insya Allah
kita akan lanjutkan pada materi-materi tersebut pada pertemuan-pertemuan yang
akan datang.
Shalawat
serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita, keluarganya dan para
shahabatnya, serta orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat...
Alhamdulillahirrabbil’aalamiin.
Ahad, 23 Ramadhan 1427
Langganan:
Postingan (Atom)





